Minggu, 22 April 2012
Belajar tentang uang, perlu?
Saya termasuk yang menyukai tulisan-tulisan Anis Matta. Dia berkiprah sebagai politisi, sekjen salah satu parpol dan wakil ketua DPR saat ini. Sejak masa kuliah, bersama teman-teman sering berinteraksi dengan buku-buku dan pemikirannya. Tema yang banyak diangkat seputar kemanusiaan, kenegaraan, peradaban, dakwah dan cinta.
Suatu kali saya membaca tulisan Anis Matta. Tepatnya ceramah yang ditulis ulang oleh seseorang. Tema yang diangkat kali itu berbeda dengan tema yang menjadi 'branding' seorang Anis. Temanya tentang uang. Tulisan yang belakangan dianggap terkesan glamour dan konsumtif. Namun menurut saya apa yang diutarakan melalui tulisan itu sangat patut untuk dipikirkan.
Berikut ini penggalan-penggalan tulisan tersebut dengan beberapa penyesuain.
"Ada satu kosa kata yang tidak masuk kedalam benak kita (untuk mempelajarinya) padahal itu sangat menentukan masa depan kita yaitu uang. Jika ada yang bertanya kenapa kita miskin maka jawabannya karena memang kita tidak belajar masalah uang. Saya sendiri tadinya tidak pernah tertarik mengenal uang lebih jauh. Karena 6 tahun saya di pesantren juga tidak pernah belajar tentang uang. Lima tahun setengah kuliah di LIPIA Fakultas Syariah juga tidak pernah belajar uang kecuali 1 bab dalam pelajaran Fiqh yaitu kitab Zakat, itupun dalam orientasi Amil zakat, tidak ada orientasi menjadi Muzakki.
Saya mulai tertarik dengan uang setelah mendapat benturan. Kapan saatnya kita mulai mengalami benturan keuangan? Yang pertama setelah kita punya anak. Kita semua mulai mengenal uang dan mempunyai persepsi bahwa uang itu perlu ketika anak kita menangis. Benturan berikutnya saat saya di Sekjen. Setelah jadi Sekjen itulah saya mulai menilai ada sesuatu masalah besar yang akan kita hadapi kalau masalah-masalah ini tidak selesai. Jadi kebanyakan kita belajar dari benturan, learning by accident. Sehingga masih banyak sekali yang bolong dalam tsaqofah kita tentang uang."
Demikian beberapa penggal ulasan seorang Anis Matta tentang uang. Pesan moral: Learning By Accident lebih baik dari MBA.... (nyambung ga ya)
Bagaimana ulasan tulisan berikutnya? Boleh baca di lanjutan blok berikutnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar