Minggu, 15 April 2012

Siapkan pelambung sebelum nyemplung :)












Suatu hari saya mendengar percakapan antara seorang atasan dan bawahan. Hari itu sang bawahan tiba-tiba diberi tahu oleh bagian personalia bahwa besok adalah 'last day', hari terakhir untuknya bekerja di perusahaan itu. Kondisi perusahaan mengharuskan melakukan perampingan karyawan. Sang bawahan kaget dan keberatan karena disampaikan secara mendadak.

"Yang saya tak terima kenapa tidak dari jauh hari diberi tahukan, jadi sudah ada persiapan untuk mencari kerjaan baru. Bapak juga tahu, kami punya anak istri yang harus diberi nafkah". Begitu kira-kira kekecewaan sang bawahan. Saya tidak mengetahui akhir dialog itu karena segera pergi untuk keperluan lain. Yang terakhir terdengar bahwa sang bawahan itu membayangkan keluarganya akan kaget ditambah tak ada tabungan yang memadai untuk jangka waktu yang lama.

Dialog itu sesaat melekat dalam benakku. Bagaimana situasinya jika yang mengalami hal itu adalah diriku. Siap jugakah? Apakah tabungan yang ada mencukupi untuk sekian bulan hingga mendapat sumber pendapatan yang baru? Itulah salah satu risiko menjadi karyawan. He...he...he... Siap diberhentikan kapan saja. Mending kalo ada pesangon, klo ga ada?

Saya mencari-cari artikel di internet tentang persoalan seperti bapak tadi. Ini salah satunya yang menarik. Menurut Ligwina Hananto (ads2.kompas.com) diperlukan dana darurat untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diduga seperti sakit, kecelakaan atau kehilangan pekerjaan. Disarankan untuk memiliki dana cadangan sebanyak 4x - 12x biaya hidup bulanan. Tentu saja tidak mudah mewujudkan angka sebesar itu, menurutnya. Jadi buat rencananya secara bertahap. Nah lho...

Dana darurat ini bagaikan pelampung yang penting disiapkan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan. Begitu kira-kira inti blog kali ini.

Pesan moral: Inilah salah satu poin pentingnya mempelajari perencanaan keuangan.

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar